Poin awal Qatar di Piala Dunia, hasil dari usaha keras selama 22 tahun
Sejarah sepak bola Qatar tercatat di Stadion San Fransisco Bay Area, Amerika Serikat, saat tim nasionalnya bermain imbang 1-1 melawan Swiss di laga Grup B Piala Dunia 2026, pada Minggu (14/6) WIB.
Gol bunuh diri dari bek Swiss Miro Muheim di menit 90+4 membuat kedudukan imbang setelah Swiss terlebih dahulu mencetak gol melalui penalti yang dieksekusi oleh Breel Embolo pada menit ke-17. Dengan hasil ini, Qatar mendapatkan satu poin, yang merupakan poin pertama mereka dalam sejarah Piala Dunia.
Pemain, pendukung, dan masyarakat Qatar merayakan hasil tersebut dengan penuh suka cita. Sebelumnya, dalam debut mereka di ajang empat tahunan itu pada tahun 2022, Qatar yang menjadi tuan rumah mengalami kekalahan di fase grup.
Meskipun hanya mengoleksi satu poin, pencapaian Qatar pantas mendapatkan apresiasi karena merupakan hasil dari kerja keras selama 22 tahun.
Dengan populasi sekitar tiga juta orang, pemerintah Qatar menyadari perlunya tindakan serius untuk menemukan talenta-talenta unggul di bidang olahraga, termasuk sepak bola.
Oleh karena itu, langkah strategis diambil pada tahun 2004, ketika pemerintah Qatar resmi mendirikan Academy for Sports Excellence (Aspire). Ini merupakan tempat untuk mencari, mengembangkan, dan mematangkan bakat-bakat muda di dunia olahraga Qatar.
Di Aspire, yang selanjutnya disebut Akademi Aspire, semua kebutuhan atlet muda dipenuhi tanpa biaya, termasuk pendidikan mereka (student-athletes). Akademi ini fokus pada beberapa cabang olahraga seperti sepak bola, tenis meja, atletik, anggar, dan squash.
Dalam hal sepak bola, Aspire Academy tidak menerima pendaftaran. Semua peserta yang terpilih untuk program berasal dari hasil pencarian bakat yang kemudian diseleksi dengan ketat.
Setiap tahun, lebih dari 4. 000 pemain muda berbakat dari usia delapan hingga 18 tahun masuk dalam radar pencarian bakat.
Aspire menyatakan bahwa mereka mulai memberikan akses penuh ke akademi bagi anak-anak yang berusia minimal 12 tahun. Namun, mereka sudah mulai mencari anak berusia lima tahun untuk dibina secara berjenjang menuju ke akademi.
Di situs resmi mereka, Aspire menjelaskan bahwa pelatihan awal sebelum memasuki program penuh dibagi ke dalam dua kelompok usia yaitu 5-8 tahun dan 9-11 tahun sebagai tahap lanjutan. Para peserta dilatih di berbagai lokasi di Qatar.
Kemudian, pada usia 12 tahun, anak-anak dapat bergabung dengan akademi Aspire, dan akan diseleksi kembali. Dari ribuan anak tersebut, hanya sekitar 40 yang akan mendapatkan pembiayaan penuh di Aspire Academy sebagai student-athletes hingga usia 18 tahun.
Di Aspire Academy, para pemain muda memiliki akses ke fasilitas terbaik. Mereka mendapatkan infrastruktur latihan kelas dunia, pelatih dari berbagai negara dengan tingkat internasional, bimbingan berbasis ilmu olahraga, nutrisi yang optimal, dukungan kesehatan yang memadai, serta pendidikan menengah yang berkualitas tinggi.
Mereka juga diberikan peluang untuk menghadapi tim-tim luar negeri, khususnya dari Eropa, guna meningkatkan pengalaman mereka.
“Visi kami adalah merekrut pemain dan membantu mereka berkembang. Akademi ini membawa kami maju dan menjadi penghubung antara klub dan tim nasional. Kami melihat menuju masa depan,” ungkap Direktur Teknik Aspire Academy Edorta Murua kepada FIFA pada November 2022.
Timnas Qatar
Tanpa Aspire Academy, mungkin tim nasional Qatar tidak akan pernah merasakan kompetisi di Piala Dunia dan mencapai berbagai keberhasilan di tingkat Asia. Memang, para lulusan akademi ini telah menjadi fondasi bagi skuad nasional Qatar, mulai dari level usia dini hingga tim senior.
Pengembangan yang berkepanjangan bagi generasi muda tersebut menghasilkan prestasi yang signifikan. Contohnya, pada tahun 2014, tim nasional Qatar yang sepenuhnya diperkuat oleh pemain dari Aspire Academy berhasil meraih gelar juara Piala Asia U19 di Myanmar. Dengan demikian, Qatar berhasil memperoleh tempat di Piala Dunia U20 2015.
Ketika Qatar menempati posisi ketiga terbaik di Piala Asia U23 2018, sekitar 95 persen pemainnya merupakan alumni Aspire. Dalam kompetisi itu, Hashim Ali, pemain dari Aspire Academy, mencetak gol termuda dalam sejarah Piala Asia U23 pada usia 17 tahun, lima bulan, dan dua hari.
Setahun setelahnya, lulusan Aspire Academy membentuk 70 persen dari komposisi pemain tim nasional Qatar yang sukses meraih gelar Piala Asia 2019.
Lebih dari itu, pada Piala Asia 2019, alumnus Aspire, Almoez Ali, memecahkan rekor untuk gol terbanyak dalam satu edisi Piala Asia dengan total sembilan gol, sehingga dinobatkan sebagai pemain terbaik dan terbanyak mencetak gol di turnamen ini. Sebelumnya, rekor gol tersebut dipegang oleh legenda Iran, Ali Daei, yang mencetak delapan gol pada Piala Asia 1996.
Saat ini, Almoez Ali masih memegang status sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa tim nasional Qatar dengan jumlah 55 gol, menurut data dari Transfermarkt.
Saat berpartisipasi di Piala Dunia 2022, 70 persen dari skuad Qatar juga berasal dari Aspire Academy.
Empat tahun kemudian, di Piala Dunia 2026, tim yang dilatih oleh Julen Lopetegui tetap mengandalkan pemain-pemain dari Aspire.
Berbeda dengan edisi 2022 di mana mereka lolos sebagai tuan rumah, pada 2026 Qatar mencapai putaran final berkat performa yang baik dalam kualifikasi zona Asia.
Mereka memulai dari putaran kedua, di mana mereka menjadi yang terbaik dalam grup, sempat mengalami kesulitan di putaran ketiga, tetapi akhirnya memastikan tempat di Piala Dunia 2026 di putaran keempat dengan kembali menjadi juara grup.
Dalam proses ini, Qatar sangat bergantung pada alumus Aspire seperti penyerang Akram Afif, kiper Meshaal Barsham, dan penyerang Almoez Ali.
Pelatih Julen Lopetegui memanggil mereka untuk memperkuat tim di Piala Dunia 2026. Bahkan, para pemain yang dididik di Aspire Academy menjadi komponen utama dalam skuad Qatar untuk Piala Dunia 2026.
Setidaknya ada 14 dari 26 pemain tim nasional Qatar di Piala Dunia 2026 yang merupakan alumni Aspire Academy.
Selain tiga pemain tersebut, terdapat juga nama-nama lainnya dari Aspire Academy dalam skuad Qatar 2026, seperti Jassem Gaber, Ayoub Aloui, Homam Ahmed, Assim Madibo, Ahmed Fathy, Mahmoud Abunada, Sultan Al-Brake, Alhashmi Alhussein, Ahmed Alganehi, Ahmed Alaaeldin, dan Tahsin Mohammed.
Pendekatan Qatar dalam memajukan olahraga, termasuk sepak bola, melalui Aspire Academy menjadi salah satu contoh terbaik yang dapat dicontoh oleh negara-negara lain.
Dari pengalaman Qatar, kita dapat belajar bahwa impian besar dalam sepak bola bisa dicapai melalui pengembangan yang berkepanjangan, bukan dengan kebijakan instan yang tidak terarah, yang hanya bertujuan untuk meningkatkan popularitas segelintir pihak.