Dari Sunderland ke Panggung Dunia, Granit Xhaka Siap Pimpin Swiss Berburu Sejarah
Kapten tim nasional Swiss, Granit Xhaka, datang ke Piala Dunia 2026 dengan bekal pengalaman, kepemimpinan, dan mentalitas baru yang ia peroleh selama membela Sunderland AFC. Gelandang berusia 33 tahun itu diyakini akan menjadi salah satu sosok penting dalam upaya Swiss menciptakan pencapaian terbaik mereka di turnamen terbesar sepak bola dunia.
Pengalaman Baru yang Membentuk Karakter
Setelah meninggalkan Bayer Leverkusen dan bergabung dengan Sunderland pada 2025, Xhaka menghadapi tantangan yang berbeda dari sebelumnya. Bermain di lingkungan yang menuntut kerja keras dan pengorbanan membuatnya semakin menghargai arti kebersamaan serta daya juang dalam sepak bola. Dalam sebuah wawancara, Xhaka mengakui bahwa pengalaman tersebut memberinya pelajaran berharga tentang bagaimana menghadapi tekanan dan kesulitan sebagai sebuah tim.
Mentalitas itulah yang kini ingin ia bawa ke skuad Swiss menjelang Piala Dunia 2026. Sebagai pemain paling berpengalaman di tim, Xhaka memahami bahwa kesuksesan di level internasional tidak hanya ditentukan oleh kualitas individu, tetapi juga oleh karakter dan ketahanan mental seluruh skuad.
Kapten yang Menjadi Panutan
Xhaka akan menjalani Piala Dunia keempatnya bersama Swiss setelah sebelumnya tampil pada edisi 2014, 2018, dan 2022. Ia juga menjadi pemain dengan jumlah penampilan terbanyak dalam sejarah tim nasional Swiss dan telah mengenakan ban kapten sejak 2019. Pengalaman panjang tersebut menjadikannya figur sentral di ruang ganti maupun di atas lapangan.
Pelatih Murat Yakin masih menaruh kepercayaan penuh kepada sang gelandang untuk memimpin generasi baru Swiss yang memiliki ambisi besar di Amerika Utara. Dengan kombinasi pemain muda dan senior, Swiss berharap mampu melampaui pencapaian sebelumnya yang kerap terhenti di babak gugur.
Swiss Datang dengan Ambisi Tinggi
Menjelang turnamen, Xhaka menegaskan bahwa Swiss tidak sekadar datang untuk meramaikan persaingan. Ia percaya timnya memiliki kualitas untuk menghadapi siapa pun dan berpeluang menciptakan sesuatu yang istimewa. Sang kapten menyebut perkembangan tim dalam beberapa tahun terakhir membuat para pemain berani bermimpi lebih besar dibandingkan sebelumnya.
Swiss tergabung di Grup B bersama Qatar, Bosnia dan Herzegovina, serta tuan rumah Kanada. Dengan performa yang cukup konsisten dalam beberapa tahun terakhir, mereka dipandang sebagai salah satu kandidat kuat untuk lolos ke fase gugur.
Pengaruh Besar di Lapangan
Selain kepemimpinan, Xhaka tetap menjadi motor permainan Swiss. Musim yang solid bersama Sunderland menunjukkan bahwa ia masih mampu tampil di level tertinggi. Kemampuan mengatur tempo permainan, distribusi bola yang akurat, dan pengalaman dalam laga-laga besar menjadi aset penting bagi negaranya.
Di tengah tekanan dan ekspektasi tinggi, Swiss berharap Xhaka dapat menularkan semangat pantang menyerah yang ia pelajari selama berkarier, termasuk saat menghadapi tantangan bersama Sunderland. Mentalitas itulah yang diyakini dapat membantu Swiss melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026.
Penutup
Piala Dunia 2026 bisa menjadi turnamen terakhir Granit Xhaka bersama Swiss. Namun, sang kapten tampaknya belum ingin menutup perjalanannya tanpa meninggalkan jejak besar. Dengan pengalaman segudang, jiwa kepemimpinan yang kuat, dan mentalitas tempur yang ditempa bersama Sunderland, Xhaka siap memimpin Swiss mengejar sejarah baru di panggung sepak bola dunia.