5 Polemik Besar Bayangi Persiapan Piala Dunia 2026
Piala Dunia 2026 yang digadang-gadang sebagai turnamen terbesar dalam sejarah—dengan 48 tim dan tiga negara tuan rumah (Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko)—justru tidak lepas dari berbagai kontroversi. Alih-alih hanya fokus pada pesta sepak bola, sejumlah isu besar kini ikut mencuri perhatian.
Berikut lima polemik yang paling banyak disorot jelang turnamen tersebut:
Harga tiket yang dinilai terlalu mahal
Salah satu kritik terbesar datang dari harga tiket yang dianggap “tidak ramah fans”.
Banyak penggemar menilai biaya menonton langsung terlalu tinggi, terutama untuk laga besar dan babak akhir. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa stadion bisa diisi lebih banyak turis atau penonton premium dibanding suporter sejati.
Isu distribusi dan penjualan tiket FIFA
Sistem penjualan tiket juga menuai sorotan karena dianggap kurang transparan dan tidak merata.
Meski FIFA mengklaim permintaan sangat tinggi, beberapa laporan menunjukkan masih adanya kursi kosong di sejumlah pertandingan, sehingga membuka kembali penjualan di fase akhir.
Format baru 48 tim: seru atau terlalu panjang?
Untuk pertama kalinya, Piala Dunia akan diikuti 48 tim.
Pendukung format ini menyebutnya lebih inklusif dan membuka peluang negara kecil. Namun kritik menyebut turnamen bisa menjadi terlalu panjang, melelahkan pemain, dan menurunkan kualitas pertandingan di fase awal.
Tantangan logistik tiga negara tuan rumah
Turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menghadirkan tantangan besar dalam hal:
- Jarak antar kota yang sangat jauh
- Perbedaan zona waktu
- Perpindahan tim dan suporter lintas negara
Banyak pihak menilai ini bisa menjadi Piala Dunia paling kompleks secara logistik dalam sejarah.
Campur tangan politik dan isu keamanan
Seperti turnamen besar lainnya, Piala Dunia 2026 juga tidak lepas dari isu politik dan keamanan.
Mulai dari kebijakan visa, hubungan antarnegara, hingga potensi ketegangan politik internasional, semuanya ikut mempengaruhi persiapan turnamen.