20 Mei 2026

Perubahan besar membawa Arsenal mengakhiri penantian trofi liga

Kekalahan Manchester City, yang ditinggal Pep Guardiola, dari Bournemouth pada pekan ke-37 Liga Inggris memberikan kesempatan bagi Arsenal untuk dengan cepat memperkenalkan diri sebagai juara liga.

Setelah pertandingan melawan Bournemouth pada Rabu pagi tadi, Arsenal dan City terpaut empat poin, sementara liga hanya menyisakan satu laga. Dengan kondisi seperti ini, The Citizens tidak mungkin lagi mengejar The Gunners.

Arsenal menjadi tim dengan kemenangan terbanyak di liga musim ini. Mereka hampir selalu berada di puncak klasemen dan mendominasi di berbagai ajang, meskipun mengalami kegagalan di Piala FA dan Piala Liga.

Namun, tim yang dilatih Mikel Arteta ini hampir meraih gelar Liga Champions, yang jika terwujud akan menjadi yang pertama bagi mereka.

The Gunners hanya pernah sekali berhasil di Eropa saat meraih titel Cup Winner’s Cup pada tahun 1994, yang kini dikenal sebagai Liga Europa.

Jika Martin Odegaard dan rekan-rekannya bisa mengalahkan Paris Saint Germain di final Liga Champions pada 30 Mei mendatang, itu akan menyempurnakan catatan tak terkalahkan Arsenal dalam kompetisi ini dan menjadikannya tim Inggris ketujuh yang menjuarai Liga Champions.

Enam tim Inggris yang pernah meraih trofi Liga Champions adalah Liverpool, Manchester United, Chelsea, Nottingham Forest, Manchester City, dan Aston Villa.

Di pentas Eropa musim ini, Arsenal menunjukkan keunggulan mereka, membuktikan bahwa mereka tidak hanya kuat di Inggris tetapi juga di Eropa.

Tidak ada yang tidak mungkin bagi mereka untuk menambahkan titel juara liga ke dalam koleksi trofi Liga Champions, jika final kedua The Gunners berakhir dengan medali emas bagi para pemainnya.

Sepanjang musim ini, tidak ada tim dari luar Inggris yang bisa mengalahkan Arsenal, meskipun mereka belum bertemu dengan tim-tim besar seperti Real Madrid, Barcelona, dan Bayern Muenchen.

Dalam kompetisi domestik, hanya enam tim yang berhasil mengalahkan Arsenal, empat di antaranya adalah tim-tim dari Enam Besar Liga Inggris.

City menjadi tim yang hanya dua kali mengalahkan Arsenal, sekali di liga dan sekali di final Piala Liga.

Lalu, apa yang membuat Arsenal berhasil kembali meraih kejayaan di liga setelah tidak meraih trofi selama 22 tahun, sejak terakhir kali di era Arsène Wenger?

Bahkan Arteta tidak pernah merasakan trofi Liga Premier selama lima tahun karirnya sebagai pemain Arsenal dari tahun 2011 hingga 2016.

Namun, Arteta kini menjadikan dirinya sebagai arsitek kesuksesan Arsenal untuk musim ini. Pendekatan dan strateginya telah mengubah Arsenal menjadi tim terkuat di Liga Inggris dan Eropa.

Kunci Kesuksesan

Ada beberapa faktor yang menjadi kunci sukses Arsenal.

Pertama, pertahanan yang kukuh, membuat lini belakang Arsenal menjadi salah satu yang terbaik musim ini.

Dengan pertahanan yang sangat solid, mereka mampu membatasi peluang yang diciptakan oleh lawan.

Kedua, kemampuan dalam memanfaatkan peluang dari set-piece, khususnya dari tendangan sudut. Dalam hal ini, Arsenal merupakan yang terdepan di Inggris, bahkan di Eropa.

Kunci ketiga adalah kedalaman skuad.

Skuad yang seimbang antara pemain utama dan cadangan membantu Arteta untuk menyusun tim yang selalu dalam performa terbaik dengan semangat juang yang tinggi.

Kedalaman skuad ini memungkinkan mereka untuk bersaing secara maksimal, baik dalam kompetisi lokal seperti Liga Premier, maupun di Liga Champions.
Tetapi semua itu tidak berarti tanpa kemampuan untuk merekrut pemain-pemain berkualitas yang sesuai dari segi teknis, fisik, dan mental.

Arsenal berhasil mendatangkan pemain-pemain yang memenuhi syarat tersebut berkat metode rekrutmen yang teliti.

Dengan cara ini, mereka dapat menyusun dua kekuatan yang seimbang dalam satu tim, sehingga tetap dapat tampil baik meskipun ada cedera diantara pemain.

Semua pencapaian tersebut berkat keputusan cerdas dalam memilih pemain yang didasari oleh strategi yang tepat di pasar transfer.

Ketika Liverpool mengeluarkan banyak biaya di musim panas lalu setelah meraih gelar juara liga, Arsenal memilih untuk lebih berhati-hati dalam pengeluaran mereka.

Mereka hanya mencatat pengeluaran sebesar 267 juta pound (sekitar Rp6,35 triliun) untuk mendatangkan delapan pemain baru.

Sebagian besar dari para pemain tersebut –Viktor Gyokeres, Martin Zubimendi, Eberechi Eze, Cristhian Mosquera, Noni Madueke, dan Christian Norgaard– berkontribusi besar dalam membawa Arsenal ke level saat ini.

Namun, pemain yang lebih dahulu dibeli sebelum delapan wajah baru itu juga memiliki peran yang sama pentingnya bagi Arsenal.

Yang paling menonjol dari kelompok ini adalah kiper David Raya dan gelandang bertahan Declan Rice.

Raya sangat penting bagi Arsenal dengan banyaknya penyelamatan yang brilian dan sering kali menggagalkan peluang terbaik lawan.

Hingga saat ini, dia sudah menjaga gawangnya agar tidak kebobolan sebanyak 18 kali, yang diistilahkan sebagai 18 clean sheet.

Sementara itu, Declan Rice berperan sebagai pengatur permainan yang kuat di lini tengah, sulit ditaklukkan oleh lawan, dan aktif dalam serangan.

Dia dibeli dari West Ham United pada tahun 2023 dengan biaya 105 juta pound (sekitar Rp2,49 triliun), yang sebanding dengan penampilannya yang dominan di lapangan, di mana pun Arsenal bertanding.

Gerakannya di lapangan sangat aktif sehingga dia dijuluki “Kuda” oleh para pendukung Arsenal.

Tackling-nya bersih dan akurat, sama halnya dengan umpan-umpannya. Pemain-pemain lawan kesulitan untuk menghadapinya saat menguasai bola, tetapi juga menghadapi masalah saat berhadapan dengan tekanannya saat mereka sekaligus membawa bola.

Rice juga merupakan eksekutor set piece yang hebat yang membuat lawan merasa terancam.

Keberhasilan Arsenal tidak terlepas dari kemampuannya membuat tim lawan kesulitan menciptakan situasi yang berpotensi mengakibatkan kartu merah bagi pemain Arsenal, dan sebaliknya, menghindari penalti dari lawan.

Pragmatis

Selain itu, Arteta mengubah cara bermain Arsenal menjadi lebih pragmatis.

Dia tidak lagi memaksakan untuk mendominasi penguasaan bola di setiap laga. Strategi yang dijalankan disesuaikan dengan karakter tim yang dihadapi.

Namun, justru di sinilah kekuatan Arsenal untuk musim ini. Mereka menjadi tim yang sangat terampil dalam melakukan transisi cepat. Pergerakan bola dari pertahanan ke serangan berjalan sangat cepat dan efisien, membuat lawan sering kali terjebak sebelum sempat mengantisipasi serangan.

Paling sehat

Kondisi-kondisi tersebut tidak akan dapat mereka capai jika aspek keuangan mereka lemah atau manajemen mereka tidak stabil.

Sebaliknya, Arteta diuntungkan oleh kondisi finansial klub yang saat ini mungkin merupakan salah satu yang paling sehat di Inggris. Menurut laporan dari New York Times, pada musim lalu, pendapatan Arsenal mencapai puncak tertinggi dengan angka 691 juta pound (sekitar Rp16,45 triliun).

Dengan jumlah uang sebesar itu, mereka melakukan investasi yang cermat, sambil tetap berhati-hati agar tidak melanggar peraturan FA dan UEFA.
Pengelolaan yang baik, baik dalam maupun luar lapangan, akhirnya memberikan hasil positif bagi Arsenal. Mereka berhasil memenangkan trofi Liga Premier pertama setelah 22 tahun dan ini menjadi gelar ke-14 dalam sejarah klub, tepat tujuh tahun setelah Mikel Arteta menjabat pelatih pada tahun 2019.

Saat ini, perhatian Arsenal sepenuhnya berada pada Liga Champions.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.