28 Mei 2026

Guardiola, Glasner, Lampard, dan liga yang melelahkan

Baik Pep Guardiola maupun Oliver Glasner menyebut kelelahan sebagai alasan mereka berhenti melatih Manchester City dan Crystal Palace.

Guardiola perlu membagi perhatian, energi, dan pikirannya untuk memimpin Manchester City dalam 593 pertandingan selama sepuluh tahun.

Dari total pertandingan tersebut, tim Guardiola berhasil meraih kemenangan sebanyak 423 kali dengan presentase kemenangan mencapai 71 persen.

Sebagai hasilnya, selama masa kepemimpinan Guardiola, Manchester City berhasil mengantongi 20 trofi, termasuk enam trofi Liga Premier, lima Piala Liga, tiga Piala FA, tiga trofi Community Shields, satu Liga Champions, satu Piala Super Eropa, dan satu Piala Dunia Klub.

Mirip dengan saat dia keluar dari Barcelona pada 2012 setelah empat tahun melatih klub tersebut, Guardiola mengungkapkan niatnya untuk beristirahat sebelum kembali ke dunia kepelatihan.

Walaupun tidak menutup karier cemerlang di City dengan penghargaan Liga Premier dan Liga Champions, Guardiola tetap bisa membawa pulang Piala FA dan Piala Liga untuk The Citizens.

Situasi yang serupa namun dengan skala lebih kecil juga terjadi pada Oliver Glasner.

Glasner mengelola Crystal Palace selama 375 hari atau dua setengah musim, di mana ia membawa tim meraih tiga trofi, yaitu Piala FA, Community Shields, dan Liga Conference Europa.

Bagi klub yang tidak pernah menjadi juara liga utama, keberhasilan Palace meraih Liga Conference menjadi simbol sukses yang besar di era kepelatihan Glasner.

Pelatih asal Austria ini telah membawa perubahan signifikan ke dalam tim Crystal Palace, meskipun posisi akhir klub di musim ini lebih rendah dibandingkan dua musim sebelumnya.

Musim ini Palace menempati posisi ke-15 setelah pada dua musim sebelumnya finis di urutan 12 dan 10.

Tahun lalu, Glasner berhasil membawa pulang Piala FA yang menjadi tiket untuk bergabung dalam Liga Conference musim ini, yang mereka menangkan setelah mengalahkan Rayo Vallecano 1-0 di final yang diadakan di Leipzig, Jerman, pada Kamis (28/5) dini hari.

Musim depan, meski berada di posisi bawah, Palace tetap akan bersaing di kompetisi Eropa pada tingkat lebih tinggi dalam Liga Europa, lantaran mereka berstatus sebagai juara Liga Conference.

Namun, Glasner yang diakui sebagai salah satu pelatih terbaik di Palace oleh pemainnya sendiri, Adam Wharton, tetap memilih untuk meninggalkan Crystal Palace.

Dia merasakan kelelahan baik secara fisik maupun mental, serta ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarga.

Ada yang berpendapat bahwa alasan utama Glasner mundur adalah kekecewaan terhadap manajemen setelah mereka melepas bek tengah Marc Guehi ke Manchester City di awal tahun ini.

Namun, alasan kelelahan mungkin lebih relevan, mengingat banyaknya pertandingan yang harus dijalani klub-klub Liga Premier yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan klub-klub lainnya di Eropa.

Mereka harus bertanding di tiga kompetisi domestik, termasuk Piala FA dan Piala Liga. Untuk tim yang berkompetisi di level Eropa seperti Crystal Palace, jumlah perlombaan tersebut bertambah menjadi empat.

Sementara itu, liga-liga Eropa lainnya, seperti LaLiga Spanyol, Serie A Italia, Bundesliga Jerman, dan Ligue 1 Prancis, hanya memiliki tiga kompetisi pertandingan.

Klub-klub di Bundesliga dan Ligue 1 bahkan hanya memainkan 34 laga liga dalam satu musim, berbeda dengan klub-klub Liga Premier yang harus menjalani 38 pertandingan liga.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika Guardiola dan Glasner mengalami kelelahan fisik dan mental, mengingat banyaknya pertandingan yang harus dihadapi oleh tim mereka.
Itu masih ditambah dengan keputusan yang terjadi di luar lapangan, yang sering kali mempengaruhi pilihan pelatih baik di lapangan maupun di ruang ganti.

Namun, kepergian Guadiola dan Glasner tidak akan mereduksi daya tarik Liga Inggris, terutama karena liga ini selalu memiliki pelatih-pelatih berbakat yang membuatnya tetap menarik.

Bahkan musim depan, Liga Premier akan kedatangan pelatih berkelas, Xabi Alonso, yang sudah menjadi pelatih Chelsea.

Selain itu, ada tiga pelatih baru dari tim-tim yang promosi dari Liga Championship, yang siap membuat Liga Premier tetap menarik untuk para penggemar sepak bola.

Imbuhan penting

Salah satu dari tiga pelatih yang baru naik ke Liga Premier itu adalah Frank Lampard.

Lampard akan menjadi kisah yang menarik setelah baru-baru ini dianugerahi gelar pelatih terbaik di Inggris, mengalahkan Mikel Arteta yang mengakhiri penantian Arsenal selama 22 tahun untuk menjuarai Liga Premier.

Fakta bahwa Lampard menyingkirkan Arteta menunjukkan ada sesuatu yang istimewa pada dirinya, yang juga menjamin Liga Premier tetap menarik meski Guardiola telah pergi.

Reputasi Lampard sebagai pemain sudah sangat dikenal banyak orang.

Dia adalah legenda Chelsea yang dengan 177 gol dalam pertandingan liga, menjadikannya gelandang Liga Premier dengan jumlah gol terbanyak sepanjang masa. Lampard juga merupakan pencetak gol terbanyak sepanjang masa Chelsea dengan total 211 gol.

Karir kepelatihannya dimulai di Derby County pada tahun 2018, kemudian melanjutkan ke Chelsea. Namun, dia tidak terlalu sukses pada musim keduanya di Chelsea serta di Everton, meskipun berhasil menyelamatkan klub dari ancaman degradasi pada tahun 2022.

Sekarang, dia dinobatkan sebagai pelatih terbaik di Inggris setelah membawa Coventry City naik ke Liga Premier.

Di bawah asuhan Lampard, Coventry memang merupakan tim yang tangguh karena mereka adalah tim dengan jumlah kemenangan terbanyak, kekalahan paling sedikit, menghasilkan gol terbanyak, dan kebobolan paling sedikit.

Mereka mengakhiri musim di posisi teratas klasemen dengan keunggulan 11 poin dari Ipswich Town di posisi kedua, sementara Arsenal berada 7 poin di atas Manchester City di Liga Premier.

Coventry, seperti klub-klub lain di Liga Championship, memainkan delapan laga lebih banyak dibandingkan klub-klub Liga Premier.

Mungkin karena sepak terjang gemilang yang dilalui Coventry, Lampard dianggap memiliki kualitas lebih dibanding Arteta.

Bahkan Sir Alex Ferguson memuji Lampard sebagai pelatih dengan karakter dan kepemimpinan yang unggul, sehingga Coventry mampu bermain konsisten dan percaya diri sepanjang musim ini.

Faktor-faktor tersebut bisa menjadikan Lampard sebagai aset penting bagi Liga Premier agar tetap sama menantangnya seperti ketika Guardiola dan Glasner masih aktif.

Namun Lampard juga mungkin akan menghadapi tantangan berat yang membutuhkan fisik, mental, dan pemikiran, seperti yang dialami oleh Guardiola dan Glasner.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.