Air mata Raul Jimenez
Dalam setiap momen penting dalam hidupnya, Raul Jimenez, striker tajam yang merupakan pencetak gol terbanyak Wolverhampton Wanderers di Premier League dengan 40 gol, selalu diselimuti oleh air mata.
Salah satu peristiwa tersebut terjadi di Stadion Azteca, Mexico City, pada malam hari Kamis (11/6) saat dia bertanding untuk tim nasional Meksiko melawan Afrika Selatan dalam pembukaan Piala Dunia 2026.
Saat sundulannya dari jarak dekat berhasil menggetarkan jala gawang Afrika Selatan dan membawa Meksiko meraih kemenangan 2-0, Jimenez tidak bisa menahan tangisnya.
Emosinya muncul tanpa bisa dibendung. Bagi mereka yang mengenalnya, ini sangat wajar karena telah banyak hal yang dilalui dan dikorbankan Jimenez untuk mencetak gol tersebut, yang merupakan gol pertamanya setelah berpartisipasi di empat edisi Piala Dunia sebelumnya.
Perjalanan Jimenez menuju Piala Dunia 2026 juga penuh tantangan. Di tengah semua persiapan tim nasional menjelang turnamen tersebut, dia harus kehilangan ayahnya, Raul Jimenez Vega, yang meninggal dunia pada Maret 2026 akibat kanker pankreas.
Kesedihan yang menghantamnya begitu mendalam. Jimenez mengungkapkan betapa pentingnya sosok ayahnya dalam hidupnya. Sang ayah menjadi alasan dibalik setiap prestasi yang diraihnya di dunia sepak bola.
Setiap langkah yang diambil sepanjang karier cemerlangnya dipersembahkan untuk sang ayah. Itulah yang membuat kekosongan hadir di kehidupannya setelah kepergian sang ayah.
Di Piala Dunia 2014, 2018, dan 2022, ketika Jimenez berjuang untuk tim nasional Meksiko, ayahnya tak pernah absen memberikan dukungan meski Jimenez tidak mencetak satu gol pun dalam tiga edisi tersebut. Namun, untuk Piala Dunia 2026, ceritanya berbeda.
Jimenez berhasil mencetak gol pertamanya di Piala Dunia, mendapat pujian dan sorakan hangat dari masyarakat Meksiko, tetapi ayahnya tidak ada di sampingnya. Tak heran jika Jimenez begitu tenggelam dalam kesedihan.
Kisah Raul Jimenez adalah tentang perjuangan. Kesedihan yang dialaminya hanyalah satu dari sekian banyak rintangan yang harus dia hadapi.
Dia pernah menghadapi kondisi yang lebih parah, yang hampir merenggut jiwanya, menghentikan kariernya, atau bahkan mengakibatkan cacat. Jika hal terburuk terjadi, Raul Jimenez mungkin tidak akan pernah bisa tampil di Piala Dunia 2026.
Dengan semangat yang kuat, Jimenez bertahan. Dia tidak pernah menyerah walaupun sering kali air mata menemaninya.
Di usia 35 tahun sekarang, Raul Jimenez telah mengalami liku-liku dalam dunia sepak bola profesional, sama seperti rekan-rekannya yang memiliki perjalanan serupa.
Namun, ada pengalaman yang mungkin tidak semua pemain sepak bola rasakan: Raul Jimenez pernah berada di batas antara kehidupan dan kematian.
Tanggal 29 November 2020 adalah hari yang takkan dilupakan Jimenez. Hanya lima menit setelah pertandingan dimulai di Stadion Emirates, London, Jimenez yang bermain untuk Wolverhampton Wanderers mengalami tabrakan kepala dengan bek Arsenal, David Luiz.
Jimenez terjatuh dan tidak sadarkan diri. Semua pemain terdiam menyaksikan tim medis bekerja dengan penuh konsentrasi. Keluarga Jimenez yang menyaksikan baik secara langsung maupun melalui televisi sangat khawatir menantikan kabar baik.
“Sangat menyedihkan melihat pasangan saya dalam keadaan tak berdaya. Saya hanya bisa menutup mata dan berdoa, ‘Ayo, bangunlah. Tolong bergerak sedikit saja supaya kami tahu kamu masih hidup’,” ujar tunangan Raul Jimenez, Daniela Basso.
Basso mengungkapkan perasaannya dalam film dokumenter yang dibuat oleh Wolverhampton Wanderers untuk mengenang momen cedera serius Jimenez berjudul Raul Jimenez: Code Red (2021).
Pelatih Wolverhampton Wanderers pada masa itu, Nuno Espirito Santo, bahkan masih bersedih mengenang cedera yang dialami Jimenez.
“Mereka selalu teriak kode darurat. Saya jadi bertanya-tanya, apakah dia masih hidup? ” ungkap Nuno.
Setelah sepuluh menit perawatan di lapangan Stadion Emirates, Raul Jimenez dilarikan ke rumah sakit dengan alat bantu pernapasan. Dokter kemudian menemukan bahwa dia mengalami patah tulang tengkorak, cedera otak traumatis, dan sedikit pendarahan di kepala.
Menurut catatan medis olahraga, hanya sedikit atlet yang dapat melanjutkan karier setelah mengalami cedera yang mengerikan seperti yang dialaminya.
“Dokter mengatakan kepada saya bahwa saya masih hidup adalah sebuah keajaiban,” kata Jimenez kepada The Guardian pada Agustus 2021.
Cedera tersebut membuat banyak orang meragukan masa depan karier sepak bola Jimenez. Namun, Jimenez tetap yakin pada kemampuannya sendiri.
Dengan menjalani pengobatan dan perawatan setiap hari, Jimenez menunjukkan kemajuan yang sangat baik. Tidak sampai tiga bulan setelah insiden, dia sudah mulai berlatih ringan di bawah pengawasan ketat tim klub.
Pada Juli 2021, Jimenez akhirnya kembali ke lapangan dalam pertandingan pramusim Wolverhampton. Penampilannya berbeda karena dia harus mengenakan pelindung kepala, yang harus dipakainya setiap kali bermain sepak bola.
Perkembangan Jimenez sangat positif. Kariernya kembali melaju dan bahkan dia terpilih untuk bermain di Piala Dunia 2022. Konsistensi penampilannya membuatnya sering dipanggil ke dalam tim nasional Meksiko.
Setelah pulih dari cedera kepalanya, Jimenez berkontribusi pada keberhasilan timnas Meksiko meraih gelar di Concacaf Nations League 2024/2025 dan Piala Emas Concacaf 2025. Dia mencetak gol di semua laga final turnamen tersebut.
Kini, di usia yang tidak muda lagi sebagai pesepak bola, Jimenez masih dipercaya untuk memperkuat tim nasional.
Piala Dunia 2026 bisa menjadi ajang terakhir mantan pemain Atletico Madrid, Benfica, dan Fulham ini berkompetisi di level besar bersama Meksiko.
Hingga saat ini, ia telah tampil 147 kali untuk timnas senior dan mencetak 46 gol, sama dengan catatan gol legenda Meksiko Jared Borgetti. Jumlah gol tersebut menempatkannya di posisi kedua sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa Meksiko, di belakang Javier “Chicharito” Hernandez (52 gol).
Di masa pensiunnya nanti, Jimenez akan meninggalkan warisan yang sangat berarti bagi sepak bola Meksiko dan dunia.
Raul Jimenez menunjukkan bahwa kekuatan mental dan disiplin dapat membantu seorang pemain sepak bola untuk mengatasi tantangan yang sulit dan terus bertahan di level tertinggi.